Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Festival Cengkok Karya Mandiri Balaraja Tangerang Banten

Perempuan-Perempuan Hebat dalam Lintasan Sejarah

Perempuan Hebat
Perempuan Hebat. Foto oleh Suzy Hazelwood dari Pexels

Perancis, dikenal negara paling romantis. Banyak pelancong ingin menjejakkan kakinya di sana. Di balik keindahan kotanya yang estetis, negeri kumpulan para pemikir dan penulis ternama ini, menyimpan nama-nama pahlawan yang memengaruhi lajunya sejarah Perancis. Sebut saja Raja Louis XIV, Maximilien Robespierre, Napoleon Bonaparte, dll. Tapi, tahukan Anda, selain nama-nama besar tadi, ada sosok perempuan yang menjadi penyebab kemenangan Perancis atas Inggris dalam Perang Seratus Tahun.

Dia adalah Joan of Arc. Gadis belia yang tinggal di pelosok sebuah desa. Usianya masih 17 tahun saat bergabung menjadi tentara. Berkat visi spiritual yang dialaminya, dia pimpin pasukan tempur Perancis merebut wilayah-wilayah penting dari cengkeraman Inggris. Pada tahun 1453, Perancis berhasil menundukkan semua wilayah yang dikuasai negeri Ratu Elizabeth, kecuali Calais. Di kemudian hari, tepatnya pada 1558, wilayah itu akhirnya bisa dikuasai. Joanc of Arc mengingatkan saya pada Nyi Ageng Serang, panglima dan ahli strategi pada perang Jawa. Bersama pasukannya yang gagah berani, Semut Ireng, dia halau setiap serangan hingga membuat Belanda kewalahan.

Di antara dua imperium besar, Persia dan Romawi, yang menguasai dunia kala itu, di Jazirah Arab, tepatnya di Kota Mekah, lahir seorang perempuan bernama Khadijah binti Khuwailid. Kelak, dia menjadi istri terkasih dari manusia yang penuh kasih, baginda Muhammad Saw. Dia ibarat matahari yang terus memberi cahaya agar semangat dakwah Nabi tetap menyala. Kontribusinya begitu penting terutama di fase awal kemunculan Islam.

Dia adalah orang pertama yang mengimani kebenaran Islam sebelum Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Saat wahyu pertama itu tiba di Gua Hira, ketakutan menghinggapi Nabi, dialah sosok yang menenangkan Nabi dan memastikan tanda-tanda kerasulan itu telah nyata. Saat keraguan menguasai, dia juga yang menguatkan dan meyakinkan Nabi. Dan saat cemoohan tak henti-henti datang menghampiri, dia pula yang membesarkan hati Nabi. Dia abdikan harta bendanya untuk dakwah Nabi. Kepergiannya pada Sang Kasih (Allah SWT), menyimpan luka bercoreng karat di hati Nabi. Itulah ‘Aam al Huzni, tahun di mana duka lara menyelimuti Nabi.

BACA  Mendialogkan Isra dan Mikraj
template wordpress

Komentar