Isra Mikraj dalam perjalanan imajinal Mohamad Iqbal terlukis dengan begitu indah dalam magnus opus-nya, Javid Namah (Kitab Keabadian). Buku ini sebetulnya diperuntukan untuk putra terkasihnya, Javid. Ditulis dalam bahasa Persia dengan gaya bahasa sastra tingkat tinggi. Memang tidak mudah memahaminya. Apalagi dibaca oleh mereka yang belum akrab dengan pemikiran-pemikiran filosofis penulisnya.
Saya memiliki buku ini sejak masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam, Kresek, Tangerang. Saat itu, sulit bagi saya memahami isinya. Semua kalimat yang saya pahami selalu menyisakan kabut tebal yang menghalangi pemahaman saya. Ilmu Al-Balâghoh (terdiri dari: Bayân, Maââni, dan BadĂŽâ) yang saya pelajari dengan cara seksama, tidak banyak membantu menyingkap maksud si penulis. Tapi saya tetap membacanya oleh karena keindahan bahasanya.
Entah mengapa buku ini begitu setia menemani, bahkan hingga saya masuk perguruan tinggi di Ciputat, UIN Syarif Hidayatullah (IAIN kala itu). Tetapi, kabut tebal itu masih saja belum terurai. Dia masih menghalangi pemahaman saya meski sudah dibantu ilmu Al-âArĂťdh wa Al-QawâfĂŽÂ yang saya pelajari di Fakultas Dirosaat Islamiyah. Al-âArĂťdh wa Al-QawâfĂŽÂ adalah ilmu kuno sastra Arab untuk membuat syair atau sajak. Ilmu ini kurang begitu diminati generasi muda oleh karena aturan-aturannya yang kaku dan baku.
















