Jiwa yang biasa tegar menghadapi lapis ujian, terguncang hebat tak kuasa mengendalikan kenyataan; hati yang kuat dalam sikap dan pendirian, luluh dihampakan beban derita; pikiran yang âtajamâ ke depan, kosong; seluruh persendian tubuh luruh seperti ada yang melorotnya. Isak tangis tumpah memecah keheningan. Kenyataan seolah begitu gelap.
Saya pun telah pernah mengalami kenyataan hidup seperti ini: berkali-kali. Cukup membekas dalam hatiâmungkin boleh jadi masih menyisakan luka bercoreng karat hingga kini. Tak ada pegangan. Tak ada panduan. Sebab cahaya mata yang menerangi lorong jiwa, pergi jauh kepada Pemilik-nya. Innâlillâh wa innâ ilahi râajiâĂťn. Yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya.
Setiap perjalanan pergi merindukan ruang kembali. Kembali pada titik paling suci (Tuhan). Tempat muasal manusia sebelum memulai perjalanan kembara di muka bumi ini. Dalam proses kelana itulah kadang kala kita dilumuri debu jalanan. Dan itu memaksa kita untuk segera âkembaliâ (tobatâtâba yatĂťbu), menyuci batin dari noda hidup yang melekat dalam diri.
















