Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Belajar Ngoding di Channel Sekolah Otodidak

Isra Mikraj dalam Perjalanan Imajinal Mohamad Iqbal

Javid Namah Kitab Keabadian Karya Mohammad Iqbal
Javid Namah Kitab Keabadian Karya Mohammad Iqbal
Beli template Wordpress premium Indonesia

Setelah langit kedua, ditemani Rumi, Iqbal terus menaiki lapisan-lapisan langit berikutnya hingga Hadirat Ilahi. Di alam tanpa warna tanpa suara itulah Iqbal mengalami pengalaman yang tidak bisa diucapkan melalui kata-kata. Tak ada kata-kata dan ibarat yang bisa mewakili puncak pengalaman itu. Dia berkata: “Mendadak kulihat alam yang melingkupiku, langit yang menaungiku dan bumi tempatku berpijak, tenggelam dalam kilai cahaya merah, hingga bagai pijar membara. Kilau yang dahsyat menyambar jiwaku, sampai aku pingsan bagai Musa”.

Perjalanan trans-kosmik Iqbal memang luar biasa. Dalam sastra dunia, tidak banyak karya yang bisa dibandingkan dengan magnun opus Iqbal ini, selain Dante Alighieri dalam La Divina Comedia (The Divine Comedy), yang juga diilhami peristiwa isra mikraj. Sebagai karya fiksi, Javid Namah bukan sekadar pengembaraan ide atau imajinasi yang liar-bebas tanpa berjangkar pada realitas. Lewat karya fiksi ini, Iqbal justru menemukan ruang yang luas untuk mengeksplorasi berbagai ide besar, yang selama ini menjadi isu-isu penting di ranah spiritualitas dan intelektual manusia sepanjang sejarah.

Begitulah kehebatan karya sastra, bisa mempertemukan tokoh riil dan rekaan dalan satu plot cerita. Apa yang dilakukan Iqbal dalam Javid Namah, mengingatkan saya pada karya S. Tidjab, pencipta tokoh legenda Arya Kamandanu dalam Tutur Tinular. Dia (S. Tidjab) mampu mempertemukan tokoh-tokoh rekaan seperti Arya Kamandanu, Arya Dwipangga, Sakawuni, Dewi Sambi, Tong Bajil, Ayu Wandira, dan Panji, dengan tokoh riil seperti Raden Wijaya, Lembu Sora, Rangga Lawe, Kebo Anabrang, Banya Kapuk, Gajah Madha, dan Gajah Paghon. Bahkan dalam beberapa kesempatan Arya Kamandanu sempat terlibat pertempuran sengit dengan Rangga Lawe dan Lembu Sora, begitu juga dengan Sakawuni yang mampu mengalahkan Banya Kapuk. Hal yang sebtulnya sama sekali tidak pernah terjadi dalam sejarah masa lalu. 

BACA  Syaikh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani

Secara pribadi, saya sangat mengapresiasi karya ini. Ditulis oleh seorang penyair-filosof, yang di Indonesia sendiri gagasan-gagasan pembaruannya banyak diganderungi para pemikir ternama seperti, Cak Nur (Nurcholish Madjid), Buya Syafii Ma’arif, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan para mahasiswa. Gagasannya mengenai khudi (ego/diri) mendasari seluruh bangunan filosofis dan puisi-puisinya. Khudi dalam pandangan Iqbal itu dinamis dan terus bergerak menuju Ego Yang Mutlak (Tuhan). Namun di sini saya tidak bermaksud mengulas filsafat khudi Iqbal secara panjang dan mendalam. Mungkin di lain tulisan.

Komentar