Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Festival Cengkok Karya Mandiri Balaraja Tangerang Banten

‘Islam Yang Mapan’ Versus ‘Islam Yang Berubah‘

Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikian Arab dan Islam
Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikian Arab dan Islam

Yang Mapan dan Yang Berubah

Peradaban Islam adalah peradaban pertentangan dan pertarungan antara pihak yang menginginkan ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) dengan pihak yang menginginkan ‘perubahan’ (al-mutahawwil) dalam segala lini kehidupan, baik dalam bidang teologi, politik, budaya, hukum, bahkan bahasa dan sastra. Di mana masing-masing kelompok merasa dirinya sebagai pihak yang paling benar dan sempurna.

Klaim kebenaran dalam setiap diskursus sosial dan keagamaan seperti ini lebih sering terjadi, dan bahkan sudah terlanjur mengendap dan menubuh dalam kesadaran umat manusia dewasa ini. Fenomena ini tidak saja terjadi di negeri-negeri lain, tapi juga di Indonesia. Kasus yang menimpa kelompok Ahmadiyah yang dianggap sesat dan patut diperangi adalah bukti nyata betapa fenomena truth claim telah mewabah dan mengakar di negeri ini.

Baca juga: Vaksin AstraZeneca. Ini Kata Ustadz Adi Hidayat

Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa tarik menarik kepentingan dan juga perebutan klaim kebenaran itulah yang membuat gerak sejarah-kebudayan Arab-Islam menjadi berkembang dinamis, meskipun di sisi yang lain terkadang justru memunculkan anomali dan bahkan tidak jarang juga menelan korban harta dan jiwa yang cukup banyak.

Fakta yang tak terbantahkan bahwa asal usul peradaban Arab tidaklah tunggal, tapi plural. Asal-usul itu mengandung benih-benih dialektis antara menerima dan menolak, yang pasti dan yang mungkin, atau dapat kita katakan antara yang mapan (ats-tsâbit) dengan yang berubah (al-mutahawwil).

Dalam buku ini, ‘Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam’ Adonis mendefinisikan yang mapan (ast-tsâbit) dalam bingkai kebudayaan Arab sebagai pemikiran yang berdasar pada teks, dan yang menjadi sifat kemapananya (ats-tsâbat) sebagai dasar bagi kemapanan, baik dalam memahami maupun mengevaluasi. Selain itu, yang mapan (ats-tsâbit) menegaskan dirinya sebagai makna satu-satunya yang benar bagi teks tersebut, dan berdasarkan hal itu, ia menjadi otoritas epistemologis.

BACA  Buku Framework Enterprise Resource Planning

Sementara, yang berubah (al-mutahawwil) dapat dipahami dengan dua pengertian: pertama, sebagai pemikiran yang berdasarkan pada teks, namun melalui interpretasi yang membuat teks dapat beradaptasi dengan realitas dan perubahan. Kedua, sebagai pemikiran yang memandang teks tidak mengandung otoritas sama sekali, dan pada dasarnya pemikiran tersebut berdasarkan pada akal, bukan pada naql (wahyu).

template wordpress

Komentar