Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Festival Cengkok Karya Mandiri Balaraja Tangerang Banten

‘Islam Yang Mapan’ Versus ‘Islam Yang Berubah‘

Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikian Arab dan Islam
Adonis Arkeologi Sejarah-Pemikian Arab dan Islam

Bagi Adonis, pertentangan dan pertarungan antara pihak yang menghendaki kemapanan (ats-tsâbit) dan pihak yang menghendaki perubahan (al-mutahawwil) yang terjadi dalam sejarah pemikiran Arab-Islam tidak bersifat dialektis, tetapi kontradiktif. Sehingga sering melahirkan represi dan tragedi, yang karenanya sisi ats-tsâbit lebih mendominasi sisi al-mutahawwil dan dia menghancurkan segala upaya yang dilakukan oleh kecenderungan gerakan kreatif dan dinamis.

Bagi kelompok ini, masa lalu adalah kesempurnaan yang paripurna dan tidak perlu ditafsir dan ditambah lagi, sementara yang kini tidak mungkin mencapai derajat yang lalu. Umat Islam kapan dan di mana pun harus kembali kepada teks lahiriah al-Quran dan as-Sunnah sebagai kebenaran yang tuggal dan menyeluruh. Mereka menganggap bahwa carut-marutya kehidupan umat Islam sekarang ini disebabkan karena sikap dan perilaku umat Islam yang tidak mau lagi menjadikan al-Quran dan as-Sunnah sebagai rujukan utama dalam menjalankan kehidupannya.

Oleh karena dominasi kecenderungan terhadap kemapanan melebihi dari segalanya, maka tidak mengherankan, kata Adonis, jika kebudayaan Arab-Islam hingga kini kering dari kreativitas, jumud, statis, dan terbelakang. Sementara kreativitas itu sendiri sebagai sistem pergerakan dalam Islam merupakan faktor terpenting dalam pengembangan kehidupan umat Islam sampai kapanpun.

Baca juga: Hunting Musholla di Pantai Kuta Bali

Hingga pada akhirnya, tidak aneh pula bila kebudayaan Arab-Islam dalam pertarunganya dengan kebudayaan lain, secara eksternal selalu mengalami kekalahan yang menyeluruh, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, politik, ekonomi dan sebagainya. Dan kekalahan ini pada giliranya memunculkan kompleksitas secara psikologis dalam diri masyarakat Arab-Islam.

Munculannya beberapa pemikir Islam modern garda depan yang terdapat di berbagai belahan dunia dan memiliki kecenderungan kepada perubahan marupakan respon balik untuk meng-counter serangan dari pihak luar yang sesekali membahayakan dan mengancam eksistensi kebudayaan Islam. Di samping itu kemunculan mereka tidak lain untuk meremajakan dan menyegarkan kembali pemahaman keagamaan Arab-Islam yang terjebak ke dalam kejumudan dan keterbelakangan yang akut.

BACA  Wisata Kebun Melon di Pantai Sawarna

Sebut saja misalnya, Muhammad Abed al-Jabiri melalui proyek “Naqd al-Aql al-‘Arabi”-nya, Nasr Hamid Abu Zaid dengan “Mafhum an-Nas”-nya, Hassan Hanafi dengan “at-Turast wa at-Tajdid”-nya, dan juga Mohammad Arkoun dengan “Naqd al-Aql al-Islami”-nya. Mereka mencoba meretas kembali struktur pemikiran Arab-Islam dengan cara menengok tradisi yang kemudian dihubungkan dengan realitas kekinian. Kesemuanya berusaha membangun persoalan-persoalan perubahan sosial secara alami dan dalam perspektif kesejarahan

Mereka berkeyakinan dan juga Adonis, bahwa masyarakat Arab-Islam tidak mungkin bangkit dari ketertinggalanya dan terbebas dari segala macam bentuk penjajahan dan penindasan yang dialaminya, apabila struktur konservatif, kemapanan (ats-tsabît) yang selama ini masih mendominasi pemikiran Arab-Islam itu sendiri tidak dihancurkan dan ditinggalkan.

Singkatnya, hanya dengan mengkaji keseluruhan peradaban Arab-Islam yang tersusun ke dalam yang mapan (ats-tsâbit) dan yang berubah (al-mutahawwil), dan memberikan interpretasi kritis-analitis atas keduanya, maka kita akan dapat memahami pandangan Arab-Islam terhadap manusia dan alam semesta. Karena menurut Adonis bahwa dalam sejarahnya, yang mapan (ats-tsâbit) tidak selalu mapan dan statis, dan yang berubah (al-mutahawwil) tidak selalu berubah dan dinamis. Sebagian dari yang berubah dan dinamis tidak berubah dalam dirinya sendiri, tetapi berubah sebagai oposisi dengan satu atau lain bentuk, dan berada di luar kekuasaan dengan satu atau lain bentuk pula. Dengan demikian, kita dapat mengetahui dan memahami posisi orang Arab-Islam terhadap ilmu pengetahuan, serta persoalan-persoalan kebudayaan dan kemanusiaan secara umum.

Judul Buku : Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam
Penulis : Ali Ahmad Said (Adonis)
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan : Pertama, September 2007
Tebal : XC + 403 halaman

———-

Tulisan sudah dipublish melalui blog pribadi Mohamad Asrori Mulky. Penulis merupakan dosen ITB Ahmad Dahlan dan alumni Pondok Pesantren Modern Subulussalam Kresek Tangerang Banten. Penulis juga aktif menjadi peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

template wordpress

Komentar