Filosofi Soang Pak Kiyai

  • Bagikan
Makna Kebersamaan Soang
Makna Kebersamaan Soang. Foto di Pondok Pesantren Modern Subulussalam Kresek Tangerang Banten

“…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jama’ah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian…”

Segerombolan soang-soang masih bertahan dan selalu bersama-sama sejak pertama kali baru melihatnya ketika menginjakkan kaki di pondok ini. Moncong-moncong soang dengan warna kuning pekat menonjol, membuat tidak ada seorang pun yang berani mendekati. Mereka sigap dan saling menjaga untuk melindungi satu sama lainnya. Kesehariannya yang bebas berkeliaran di area pondok, pergi kemanapun mereka mau, dan selalu saling sahut menyahut dengan suaranya yang khas, merupakan rutinitas istiqomah yang selalu dijalankan.

Soang adalah hewan yang memiliki area teritorial sendiri, mereka sangat sensitif dengan orang asing. Tak pernah ada pelajaran khusus yang disampaikan tentang keberadaan soang-soang tersebut. Namun sejatinya soang-soang tersebut mampu bertahan dan berkembang biak secara konstan dengan melewati waktu hari demi hari. Nilai-nilai kebersamaan dan saling menjaga merupakan intisari ilmu dari keberadaan soang-soang Pak Kiyai. Inilah nilai-nilai luhur yang dapat diambil, ilmu yang tidak disampaikan dengan lisan namun penuh makna yang tersirat didalamnya.

Soang-soang Pak Kiyai telah menyemai makna kebersamaan dan mengajarkannya kepada seluruh penghuni pondok, dan sebagai sosok seorang muslim, mengejawantahkan nilai-nilai kebersamaan dengan perbuatan yang sholeh dalam kehidupan sehari-hari merupakan jalan menuju surga.

Baca juga: Yuk Piknik Tipis-Tipis ke Banten Rafting Ciberang (BRC)

Semangat kebersamaan atau ruh al-jama’ah ini setidaknya harus dibangun dengan tiga pondasi diantaranya yaitu komitmen, komunikasi dan kolaborasi. Tiga unsur ini merupakan praktek real yang dapat menciptakan kebersamaan secara sistemik dan sustainable. Semangat kebersamaan ini pun selalu dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-harinya bersama dengan keluarga dan sahabatnya. Banyak terdapat hadist yang menjelaskan tentang kebersamaan, diantaranya seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin terhadap mukmin lain seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.”

 لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.”

Rangkuman
Itulah pelajaran yang dapat dipetik dari soang-soang Pak Kiyai yang harus mampu kita amalkan secara bersama-sama. Hadist yang telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi berikut dapat menjadi benang merah betapa pentingnya nilai kebersamaan.

“…Wajib atas kalian untuk bersama dengan al-jamaah dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan. Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian, sedangkan dari orang yang berdua dia lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan tengah-tengahnya (yang terbaiknya) surga maka hendaklah dia bersama jamaah. Barangsiapa yang kebaikan-kebaikannya menggembirakan dia dan kejelekan-kejelekannya menyusahkan dia, maka dia adalah seorang mukmin.”

(( ))

  • Bagikan

Respon (1)

Komentar