Menebar Manfaat & Berbuat Kebaikan
Booking RaftingIndeks

Pint Siswa Ter”cerdas” – Seri Pengalaman Mendidik #2

Siswi Cerdas
Siswi Cerdas. Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels

Sederhananya, masalah Pint tinggal memaksimalkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonalnya, agar dia mengenal diri dan memanfaatkan kecerdasannya untuk “kemaslahatan umat” serta peningkatan pada aspek sopan santun. Sayangnya tidak semudah itu Ferguso!

Dalam pembelajaran saya, Pint tidak pernah bermasalah dalam pemahaman materi, ya sekali lagi saya tegaskan bahwa dia memang cerdas! Untungnya dia selalu merasa puas jika berdebat dengan saya, baik hubungannya dengan materi pelajaran maupun hal lainnya, syukurnya pula tidak masalah dengan saya berdebat dengan orang cerdas, insya Allah cukup bisa bersaing, hehehe.. Beda cerita lagi kalau lawan debat adalah orang bdh, ah lebih baik diam, jadi teringat pada sebuah forum sampai ada yang japri wa “Pak Toto, koq diam aja?” saya jawab “Mustahil meyakinkan lalat bahwa bunga lebih indah daripada sampah” jadi saya malas mendebat, karna waktu itu lawannya orang yg bdh. Yah, jadi melenceng, maafkan saya. kembali ke Pint, debat dengan dia sebenarnya salah satu hobby saya, setidaknya selama tiga tahun selama dia menjadi siswa saya.

Waktu berlalu terlalu cepat, tiga tahun menurut saya tidak cukup untuk menambal kelemahannya, atau metode saya terlalu lembut? saya sering kali menegurnya, namun dengan teguran ringan dengan sedikit senyuman, harapannya berhasil menyentuh hatinya. Karena menurut saya dia sudah mendapat vaksin yang cukup hebat untuk kebal dari teguran keras, sudah terlalu biasa dia mendapatkan teguran sejenis, dari guru dan orang tua, kira-kira begitu.
Waktu berlalu begitu cepat, salah satu kebaikan yang saya pernah lihat adalah ketika dia pamer mengenakan kerudung, dengan bahasanya “Pak saya sekarang sudah halal lho”, gubrak! Saya sering kali menegur (dengan halus lho ya, tanpa pemaksaan) meminta dia mengenakan kerudung dengan kalimat kurang lebih seperti ini “Pint, kalau kamu pakai kerudung terlihat lebih cantik lho!”

Waktu berlalu begitu cepat, hingga tiba pada akhir perpisahan siswa kelas XII (kelas 3 SMA), dimana beberapa siswa diminta untuk memberikan “testimoni” hingga memilih guru terbaik versi masing-masing. Pint tentu mendapatkan kesempatan ini karena dia salah satu “primadona” di kelas XII. Itu kali pertama saya melihat dia malu untuk berbicara, bahasanya juga cukup santun dan pastinya pemilihan kata yang tepat sesuai keahliannya. Diakhir, Pint memilih saya sebagai guru terbaik. Biasa saja sih karna memang sudah langganan dengan predikat itu, hehehehe (sombong mode on)… tapi saya merasa belum selesai dengan dia.

Pada saat kelas XII konsultasi jurusan kuliah, Pint saya sarankan memilih jurusan hukum, statistika, bahasa, ataupun matematika. Harapan saya bukan hanya dia memaksimalkan kecerdasan yang sudah ada, tapi juga berhasil menambal kelemahannya dengan riuh dan dahsyatnya dunia kampus, asyiknya organisasi kampus, hingga seremnya dosen killer. Ya setidaknya itulah yang terjadi pada diri seorang Toto Gutomo, titik baliknya ditemukan di dunia kampus, berhasil menambal kelemahan di dunia kampus, dan itulah kenapa seorang Toto Gutomo sedikit lebih nyaring ketika mempromosikan dunia kuliah kepada siswanya.

Semoga kamu sukses di dunia, dan di akhirat, Pint.

Exit mobile version