Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting

Macan Putihku #Part 7

  • Bagikan
Cerita Fiksi Macan Putihku
Cerita Fiksi Macan Putihku. Foto oleh zoosnow dari Pexels

Pemuda itu pun akhirnya meminta izin untuk pamit “Wahai nenek, aku akan segera pergi dan takdirku kali ini adalah pergi ke timur tanpa pulang dengan kehidupan”.

Sang nenek tidak bisa berkata apa-apa, ia mengerti dan menangis. Karena dalam takdir yang sudah ditoreh ternyata apabila keduanya tidak mampu bersatu, maka salah satunya harus pergi untuk tidak dapat pernah bisa kembali lagi.

Pemuda itu akhirnya melanjutkan langkahnya ke arah pintu keluar dan diantar oleh sang nenek. Macan putih betina yang semenjak tadi memperhatikan pembicaraan tersebut akhirnya turun dari singgasana lari menuju pemuda itu.

Badak bercula tidak bisa melakukan apa-apa, ia merasa bersalah karena menggunakan ilmu kedigjayaannya untuk mempengaruhi macan putih betina agar mau menikah dengannya.

Macan putih betina terus mengejar pemuda itu, setelah begitu dekat ia memegang salah satu lengan tangan pemuda tersebut dan berkata sambil menangis “Jangan pergi…” teriak macan putih betina.

Kemudian macan putih betina bertanya kepada sang nenek, “Nenek siapakah pemuda ini? kenapa kalung miliknya sama dengan kalung milikku?” tanyanya. Sang nenek terdiam dan berat untuk menjawabnya, namun ia harus memberitahunya.

“Wahai cucuku pemuda ini adalah macan putih jantan”. Disaat itu pula sang macan putih betina lemas tetapi tidak bisa melepas pegangannya ke lengan macan putih jantan. “Dia adalah jodohmu yang telah ditakdirkan untukmu 20 tahun yang lalu” sambung sang nenek.

Sang macan putih betina menangis sambil menatap wajah macan jantan putih dan berkata “Tahukah kau bahwa aku telah mencarimu sampai ke barat, sebenarnya kau dimana. Sekarang tiba-tiba kau datang disaat aku telah menjadi milik orang lain. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Kalau kau memang benar jodohku sebagaimana yang telah ditakdirkan untukku, kenapa aku harus menikah dengan orang lain” sang macan putih betina terus menangis.

Sang macan jantan putih diam tak bersuara, rasa sedih menghampirinya, ia kini merasakan begitu dekat dirinya dengan pujaan hatinya yang telah begitu lama dinanti-nantikannya, namun keadaan begitu menyakitkan, macan putih betina tak mampu ia rangkul. Ia hanya bisa mencium wangi tubuhnya dari jauh. Wanginya masih sama seperti dulu ketika ia mencium keningnya yang kala itu baru lahir.

Akhirnya macan putih jantan berkata dengan penuh kasih sayang “Wahai macan putih cantik didepanku, saat ini aku harus tetap menghormatimu karena kau sudah milik orang lain”. Macan putih betina semakin menangis. “Kalau kau memang betul mencariku sampai ke barat, ketahuilah bahwa aku juga mencarimu dari arah timur” kata macan putih jantan.

Kedua mata itu saling bertatapan, tatapannya begitu dalam, jauh sampai ke hati yang paling dalam. Macan putih betina mengetahui bahwa macan putih jantan begitu mencintainya dan begitu pun sebaliknya. Yang ada dalam pikiran mereka berdua, hanyalah sebuah pertanyaan yang belum terpecahkan. Jikalau memang meraka adalah jodoh, kenapa harus melewati jalan yang berseberangan antara barat dan timur.

Disela-sela itu, mendekatlah badak bercula mendekati mereka kemudian berkata “Aku mohon maaf kepadamu wahai macan putih jantan atas kesalahanku menggunakan ilmuku untuk mempengaruhi macan putih betina, sebenarnya aku sudah menikah dan memiliki dua keturunan yang aku cintai tapi aku khilaf dan tergoda oleh kecantikan macan putih betina. Oleh karena itu sebagai pembalasan atas kesalahanku, saat ini juga aku menceraikan macan putih betina dan mengembalikannya kepadamu”.

Link Cerita: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Tamat

Beli template Wordpress premium Indonesia
  • Bagikan

Komentar