Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting

Macan Putihku #Part 4

  • Bagikan
Cerita Fiksi Macan Putihku
Cerita Fiksi Macan Putihku. Foto oleh zoosnow dari Pexels

Kemudian ia terus melanjutkan ceritanya:

“Seperti biasanya, kabar tentang macan putih betina yang sedang kepincut dengan badak bercula akhirnya sampai kepada macan putih jantan. Ia mengetahui hal tersebut dari para punggawanya. Namun untuk kali ini macan putih jantan memerintahkan semua punggawanya untuk tidak melakukan apa-apa terhadap hubungan antara macan putih betina dan badak bercula. Karena ia telah mengetahui bahwa badak bercula merupakan sosok yang dihormati untuk sebagian kalangan.

Salah satu punggawa akhirnya bertanya “Wahai tuanku, tahukah kau bahwa badak bercula sering menjelekkan dirimu di depan semua orang termasuk didepan macan putih betina”. Namun macan putih jantan menjawabnya dengan bijak, “Wahai punggawaku, aku memang telah mengetahui hal itu, namun biarkanlah. Aku merasakan bahwa ini merupakan takdirku untuk merasakan rasa cemburu dan aku yakin keadaan ini tidak akan berselang lama”.

Rasa sedih dirasakan macan putih jantan karena terjadinya hubungan antara macan putih betina yang ia cintai dengan badak bercula. Macan putih jantan masih ingat betul pesan sang nenek untuk tetap sabar dan tabah sebagaimana petuahnya untuk berjalan ke arah timur.

Sang eyang berhenti bercerita, ia membalikkan lembaran kitab antah berantah, kemudian bertanya kepada para pendengar yang ada didepannya.

“Sampai disini, apakah yang kalian rasakan tentang cerita yang akan aku sampaikan berikutnya?” tanyanya.

Sang pemuda yang dari awal sering bertanya kembali mengacungkan tangan sambil bertanya “Maaf eyang, engkau telah bercerita diawal bahwa badak bercula sangat berbahaya dan memiliki kedigjayaan yang telah di kenal diseantero bumi. Lalu kenapa macan putih betina mau berhubungan dengannya” tanyanya.

Kemudian sang eyang menjawab “Baiklah, hal itu akan kusampaikan pada cerita berikutnya, maka sekarang dengarkanlah baik-baik agar kalian dapat mengambil kesimpulan” jawabnya.

Dan sang eyang pun melanjutkan ceritanya:

“Baru hitungan bulan, akhirnya badak bercula berniat untuk menikahi sang macan putih betina. Badak bercula sangat mahir merayu macan putih betina dengan setiap saat memanggilnya dengan panggilan sayang. Tak lupa pula agar hati macan putih betina luluh dan mau diajak menikah, badak bercula selalu memenuhi kebutuhan hidupnya, ia berikan apapun yang macan putih betina kehendaki.

Setiap pagi badak bercula tak pernah lupa untuk mengirim pesan rayuannya, seperti pesan dipagi hari yang mendung ini, ia kirim surat rayuannya kepada macan putih betina melalui pengawalnya, “Pagi sayang, kangen nih” seperti itu dan seterusnya. Adakalanya pada saat macan putih betina hendak jalan-jalan ke puncak gunung, tak lupa badak bercula memberikan perbekalan berupa harta. Tentu hal ini semakin membuat macan putih betina lupa akan tujuannya ke barat.

Sang eyang tetap melanjutkan ceritanya tanpa bertanya sepatah katapun kepada para pendengar yang ada didepannya, terlebih ia telah melihat mata pemuda yang aktif bertanya tadi penuh dengan kekecawaan. Sang eyang bisa membaca, kekecewaan pemuda itu tidak lain dari sifat macan putih betina yang berubah.

“Sang macan putih betina yang telah lupa akan mimpi-mimpinya akhirnya mampu jatuh ke tangan badak bercula. Pada hari yang telah dipersiapkan, badak bercula beserta rombongan begitu pula dengan macan putih betina pergi ke kediaman ibu dan nenek sang macan putih.”

Sang eyang melihat para pendengarnya begitu tegang dengan ceritanya:

“Sampailah rombongan itu di depan kediaman ibu dan nenek dari sang macan putih betina. Macan putih betina terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan menemui ibu dan neneknya.

Alangkah begitu terkejutnya ibu dan nenek mendapati sang macan putih betina yang sudah lama pergi tiba-tiba pulang tanpa kabar, lalu dipeluklah sang macan putih betina oleh ibu dan nenek secara bergantian. Pelukkan yang begitu hangat sampai dengan menitikkan air mata kerinduan.

Sang nenek heran melihat macan putih betina tidak datang dengan macan putih jantan, ia bertanya-tanya dalam hati, “Ada apa gerangan”.

Akhirnya nenek bertanya kepada macan putih betina, “Wahai cucuku yang kusayang, kenapa kau datang sendirian? Kemana macan jantan putih yang telah ditakdirkan untukmu? Apakah kau sudah menemuinya?” sang nenek bertanya bertubi-tubi.

Sang ibu pun menimpali “Iya anakku, apakah kau sudah menemui pemuda dalam mimpimu? Apakah kau sudah sampai ke barat?”

Akhirnya macan putih betina menjawab dengan penuh tangisan, “Maafkan dinda ibu, maafkan dinda nenek ” sang macan putih betina tersedu-sedu.

“Aku telah berjalan ke arah barat seperti petuah yang nenek berikan kepadaku yaitu untuk pergi sebagaimana matahari pergi dan datang, dan sekarang telah tiba waktunya aku akan memperkenalkan sosok yang telah datang bersamaku dan akan menikahiku, ia telah berdiri di depan rumah menunggu restu darimu wahai ibundaku” jawab sang macan putih dengan mata penuh harapan. 

Akhirnya sang nenek merangkul macan putih betina sambil berkata “Syukurlah kau telah menemukan pemuda itu, mari kita sambut kedatangannya” jawab nenek. Akhirnya mereka bertiga dengan penuh gembira berjalan bersama ke arah pintu depan rumah untuk menemui pemuda yang sebelumnya dikira oleh nenek adalah macan jantan putih.”

Link Cerita: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Tamat

Beli template Wordpress premium Indonesia
  • Bagikan

Komentar