Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting

Macan Putihku #Part 1

  • Bagikan
Cerita Fiksi Macan Putihku
Cerita Fiksi Macan Putihku. Foto oleh zoosnow dari Pexels

MANUSCRIPT ANTAH BERANTAH

PERSEMBAHAN UNTUK SANG RAJA YANG ADA DI DALAM DIRINYA

KARYA: DJADJOEL

Alkisah sang eyang memberikan petuahnya:

“Walaupun saat ini macan putih jantan berjalan ke arah timur dan macan putih betina ke arah barat. Pada suatu saat mereka akan dipertemukan dan dipersatukan pada waktu dan kondisi yang tidak diketahui. Seperti yang termaktub dalam kitab antah berantah.”

Kitab kuno berbahan pelepah kayu terus melanjutkan kisahnya. Sang eyang dengan nada tuanya meneruskan pesannya:

“Sang macan putih betina memang agresif dengan lawan jenis, jiwa mudanya yang mendorong kearah barat dan pada akhirnya membahayakan dirinya walaupun harus berhadapan dengan badak bercula yang misterius dan terkenal akan kedigjayaannya di seantero bumi”.

Sang eyang kembali menyambung petuahnya sambil batuk-batuk kecil:

 “Walaupun bahaya menghadang, sang macan putih jantan kemudian memohon kepada Pangeran Sang Penguasa Alam untuk selalu menjaganya. Akibat dari permohonannya, diutuslah punggawa-punggawa yang tak terlihat untuk menjaga macan putih betina yang pergi ke arah barat. Sang macan putih betina terus melangkah dan berusaha mencari sang pembuka tabir yang ia yakini ada di barat.”

Sang eyang tiba-tiba terhenti sejenak setelah ia membuka lembaran baru, sepertinya ada yang tidak biasa pada halaman ini. Sebelum melanjutkan cerita yang ada di dalam kitab, sang eyang menanyakan kepada para pengikut setianya yang sedang duduk sila bersimpuh didepannya.

“Apakah kalian masih ingin terus mendengarkan cerita ini?” Tuturnya.

Mereka yang sedang mendengarkan didepan menjawab bersama-sama “masih eyang” jawabnya.

Namun ada salah satu pemuda yang duduk paling depan mengacungkan tangan sambil berbungkuk badan, “Maaf eyang, bolehkah saya bertanya?”

Sang eyang pun menjawab “Silahkan anak muda apa yang ingin kau tanyakan” jawab eyang.

“Siapakah gerangan sang pembuka tabir yang sedang dicari oleh macan putih betina?” Tanyanya.

Sang eyang pun tertawa pendek dan seketika itu pula terlihat giginya yang sudah tak lengkap dan memerah akibat kebiasaan sang eyang mengunyah sirih.

“Hehehe… baiklah anak muda, pertanyaanmu pasti akan kujawab. Bersabarlah dan dengarkan apa yang akan ku ceritakan selanjutnya” Tutur sang eyang.

Kemudian anak muda tersebut sambil menundukkan sedikit kepalanya berkata kepada sang eyang “Maaf eyang atas ketidaksabaran ini” katanya.

Sang eyang pun kembali meneruskan setiap kata yang termaktub dalam kitab:

“Ketahuilah bahwa sang macan putih betina dalam mengarungi perjalanan ke arah barat harus ia tempuh dengan perjalanan yang tak mudah. Sang macan putih betina kadang kala harus masuk dan keluar hutan belantara serta menerjang berbagai bahaya.”

“Pada hari-hari tertentu macan putih betina harus mendaki puncak-puncak gunung untuk hanya memastikan arah yang benar. Dalam perjalanannya kadang ia bertemu dengan macan jantan lainnya yang ia kira sebagai pembuka tabir, namun kenyataannya selalu salah.”

“Pun ketika ia diajak macan jantan asing ditengah perjalanan untuk mendaki salah satu gunung tertinggi di daratan yang penuh misteri, dengan harapan didalam hati sang macan putih betina bahwa perjalanannya akan berakhir disaat itu pula karena ia menganggap telah menemukan sang pembuka tabir.”

“Namun lagi-lagi firasatnya salah, ia melihat macan jantan yang dianggap sebagai pembuka tabir memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan petunjuk”.

Pemuda yang tadi bertanya, kembali lagi mengajukan pertanyaan kepada sang eyang, “Maaf eyang, jadi sebenarnya macan putih betina sudah memiliki petunjuk dalam melakukan perjalanannya ke arah barat? Lantas mengapa ia harus bertemu dengan macan-macan jantan asing lainnya. Kemana macan putih jantan yang sudah ditakdirkan untuk bersatu dengan macan putih betina?” tanya sang pemuda.

Kemudian terdapat pemuda lainnya sambil membisikkan ke pemuda yang bertanya tadi “Kau dengarkan dulu cerita eyang, nanti kau pun akan mengerti” pungkasnya.

“Sudah-sudah tidak apa, kalian semua dengarkan saja dulu” tutur eyang.

Bersambung: Part 2, Part 3, Part 4, Part 5, Part 6, Part 7, Tamat

Beli template Wordpress premium Indonesia
  • Bagikan

Respon (3)

Komentar