Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Wisata Arung Jeram Banten Rafting
Jasa desain web di banten

Alur Kerja Pembuatan Aplikasi

Mengetahui proses tahapan pembuatan aplikasi

Untuk dapat membuat aplikasi baik atas permintaan tempat bekerja, client, dan sebagainya, perlu diperhatikan tahapan alur kerja agar manajemen pekerjaan dapat dibentuk sebaik mungkin. Namun tentunya akan dapat berbeda satu dengan lainnya pada pembuatan alur kerja pada proyek pembuatan aplikasi.

Alur kerja pembuatan aplikasi ini bisa disebut system development life cycle yang disingkat SDLC yaitu siklus yang digunakan dalam pembuatan atau pengembangan sistem informasi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah secara efektif.

Jika sudah memahami SDLC dengan baik tentu proses pekerjaan aplikasi akan berjalan dengan sangat profesional. Waktu akan tersusun dengan baik, kapan dan bagaimana proyek harus selesai pun dapat ditargetkan.

Di media sosial Youtube ada penjelasan tentang alur kerja pembuatan aplikasi yang dijelaskan secara baik dan bisa Anda pelajari. Video tersebut merupakan pengalaman dari Youtuber tersebut selama bekerja di tempat kerjanya.

Berikut kesimpulan alur kerja yang dibuat pada salah satu komentar dari video tersebut.

1. Business Requirement Document (BRD)

  • Hasil riset tim produk/bisnis/operation (non-tech)
  • Aplikasi apa yang mau dibuat? fiturnya apa aja?
  • Breakdown timelinenya (per bulan delivernya apa aja?)
  • Bagaimana flowchart bisnisnya? (bukan flowchart aplikasi)

2. User Interface/User Experience (UI/UX)

  • Deliver berupa UI aplikasi lengkap beserta flownya
  • Lebih bagus jika sudah dalam bentuk protoype (bisa di klik-klik)

3. Technical Design

  • Design kebutuhan secara teknis. Butuh bikin berapa aplikasi?
  • Butuh data dari mana? Interaksi antar aplikasi seperti apa? dst
  • Dari BRD & UI/UX kemudian ditentukan deployment diagram, ERD, dll

4. Architecture Review

  • Hasil dari technical design akan direview secara architecture
  • Review dilakukan oleh para Tchnical Architect (para senior/expert)
  • Untuk pertimbangan network, security, devops, performance, dst
  • Menentukan technical design yang baik & meminimalisir masalah
BACA  Manajemen Portofolio Proyek, Tantangan dan Keuntungannya

5. API Specification

  • Base on UI/UX, misal dari screen A dibutuhkan 2 API, screen B 3 API, dst
  • Misalnya API untuk product, API untuk banner, API untuk promo, dst
  • Menentukan setiap API butuh request & responsenya seperti apa?
  • Contoh: https://github.com/programmerzamannow/kotlin-restful-api
  • Tujuan: Agar nanti saat development tim BE, FE & QA bisa jalan secara pararel, beda dengan Waterfall (misal tim FE harus nunggu dulu BE selesai)

6. Development (Backend, Frontend, Quality Assurance)

  • Tim BE bikin aplikasi Backend + Databasenya base on API Specification
  • Tim FE bikin Frontend, consume API base on API Specification
  • Tim QA bikin QA Automation base on API Specification

7. Non-Production Deployment

  • Seteleh developer selesai, akan release versi app, misal bikin Tag di Git
  • Selanjutnya CI/CD akan baca Tag baru dari Repo (Git), lalu deployment

8. Testing (QA, Performance, Security)

  • Setelah deploy, akan dijalankan End-to-End Test yang sudah dibuat tim QA saat development (bukan Unit Test, karena Unit Test di tahap development)
  • Testing lainnya: Performance Test & Security Test (tergantung ENV nya)
  • Setelah Testing, jika terdapat masalah, bisa segera improvement

9. Tahap Akhir: Production Deployment

  • Intinya deploy ke production, customer bisa mulai memakai aplikasi
  • Strategi: A/B Testing, Canary Deployment, Blue-Green Deployment, dsb

10. Maintenance/Improvement

  • Melakukan Improvement yaitu balik lagi ke tahapan awal, dari bikin BRD, kira-kira mau ada penambahan fitur baru apa, dsb.
  • Maintenance yaitu melakukan monitoring, misalnya total data, total traffic, response time, dst. Dilakukan untuk mengidentifikasi jika terdapat masalah. Mencegah kemungkinan aplikasi tiba-tiba mati, dll.
template wordpress

Komentar